Kejarlah Daku kau Kutangkap

Dulu, saya kuliah di fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Dibidang ilmu itu sangat ditekankan pentingnya pembuktian segala jenis rumus dan dalil. Contoh sederhana rumus pythagoras pada segitiga siku-siku misalnya, yang kita kenal dengan panjang sisi miring pangkat dua sama dengan panjang sisi tegak pangkat dua ditambah dengan panjang sisi mendatar dipangkat dua, atau c²=a²+b². Rumus ini kemudian harus dibuktikan kebenarannya baru orang percaya bahwa demikianlah adanya. Semua dalil dan rumus yang bersifat baik matematis maupun non matematis, dari yang sederhana sampai yang paling rumit memang harus dibuktikan kebenarannya. Bisa secara induktif maupun deduktif.


Hal yang sama tapi beda dalam pembuktian adalah kebenaran suatu pengetahuan atau pengalaman, yang biasanya dibuktikan melalui observasi atau percobaan. Jika secara empiris suatu pengetahuan atau pengalaman dapat dibuktikan kebenarannya, maka pengetahuan atau pengalaman itu akan berlaku secara umum. Contohnya adalah ketika pelaut asal Portugis Fernando de magelhains ingin membuktikan bahwa bumi ini bulat. Dia membuat ekspedisi pada tahun 1519, yang berlayar mulai dari spanyol terus ke selatan. Dan 3 tahun kemudian tim ekspedisi ini berhasil kembali ke Spanyol. Atas dasar ekspedisi yang membuahkan suatu pengalaman inilah maka orang percaya kalau bumi ini bulat (coba kalau bumi ini datar, maka pada satu titik ekspedisi ini akan terjungkal kebawah). Contoh lain adalah keyakinan Copernicus bahwa matahari sebagai pusat alam semesta dan bumi serta planet-planet yang lain berotasi mengelilingi matahari. Keyakinan ini dibuktikan melalui observasi oleh Galileo Galilei 100 tahun kemudian.


Apakah semua hal harus dibuktikan lebih dulu baru orang percaya? Ya, nampaknya demikian, tapi dengan pengecualian untuk orang yang percaya adanya Tuhan. Percaya akan adanya Tuhan Inilah yang disebut iman. Orang beriman kepada Tuhan tidak harus membuktikan bahwa Tuhan itu secara fisik ada. Orang beriman kepada Tuhan karena bisa jadi orang tersebut mengalami pengalaman metafisika, atau pengalaman batin yang kemudian diterjemahkan atau ditafsirkan baik secara pribadi maupun dengan pengantaraan orang lain. Tapi yang utama, orang beriman kepada Tuhan karena orang tersebut percaya kepada Kitab Sucinya yang diyakini berasal atau diilhami oleh Tuhan sendiri.


Lalu, kenapa orang beriman? Kenapa orang percaya tanpa ada bukti kongkrit? Karena orang itu mempunyai suatu harapan, yaitu harapan akan kehidupan yang lebih baik setelah kehidupan ini, seperti yang disebut dalam Kitab Suci manapun meskipun dalam cara yang mungkin berbeda. Harapan akan berjumpa dengan Tuhannya, harapan mengalami hidup bahagia yang kekal. Maka untuk mewujudkan harapan itu, sebagian orang tidak segan untuk mengamalkan imannya sesuai dengan tuntunan Kitab Sucinya, yang intinya adalah, berusaha hidup serupa dengan Tuhan yang digambarkan dalam Kitab Sucinya. Serupa artinya Kalau Tuhan disebut Mahakasih, maka berusahalah untuk mengasihi sesama seperti mengasihi dirinya sendiri. Kalau Tuhan disebut Mahapenolong, maka tolonglah sesama yang membutuhkan pertolongan. Tolonglah mereka yang kelaparan, yang kehausan, atau yang bertelanjang. Kalau Tuhan disebut Maharahim, maka berusahalah untuk memaafkan kesalahan orang yang bersalah kepada kita. Kalau Tuhan disebut Mahaadil, maka berlakulah adil kepada sesama, bukan hanya untuk saat ini, tapi juga adil untuk tidak serakah menghabiskan sumber daya alam yang juga disediakan Tuhan untuk generasi sesudah kita.


Gapailah sebanyak yang Anda bisa semua predikat ke-Maha-an yang disematkan Kitab Suci sebagai sifat dari Tuhan. Walaupun Anda hanya bisa menggapai sehitamnya kuku, tapi percayalah, akan tiba saatnya nanti Tuhan bersabda : “kejarlah Daku kau Kutangkap”.
Wassallam